Story-telling Untuk Membangun Inklusivitas dan Toleransi di Kalangan Anak Muda: Program CERITA The Habibie Center

Rudi Sukandar

Abstract


Intoleransi dan ketidakpercayaan antargolongan di Indonesia semakin meningkat, terutama dipicu oleh maraknya konten-konten negatif yang marak beredar di media sosial dan grup pesan tertutup. Untuk merespons situasi yang semakinmengkhawatirkan ini, The Habibie Center (THC) meluncurkan program Community Empowerment in Raising Inclusivity and Trust Through technology Application (CERITA) yang didukung oleh Google.org. CERITA adalah sebuah program yang menggabungkan storytelling, fasilitasi diskusi, dan aplikasi teknologi untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi para anak muda atas isu inklusivitas dan pembangunan rasa saling percaya antarkelompok di kota mereka masing-masing. Program ini berbentuk training-of-trainer (TOT) bagi para anak muda pegiat dan aktivis yang mewakili komunitas mereka masing-masing. Para peserta TOT ini kemudian disebut sebagai Duta CERITA. Pada tahap pertama program, lima kota dipilih sebagai tempat pelaksanaan pelatihan, yaitu Bandung, Jakarta, Malang, Yogyakarta, dan Solo. Dari proyeksi jumlah peserta, program CERITA berhasil memberikan pelatihan kepada 144 dari rencana 150 peserta. Para peserta kemudian diminta, secara individual atau berkelompok, untuk melatih orang-orang di komunitasnya tentang kegiatan story-telling, fasilitasi diskusi, dan akses aplikasi teknologi untuk story-telling. Para fasilitator untuk story-telling dan fasilitasi diskusi berasal dari Kanada didampingi oleh failitator dari Indonesia. Aplikasi teknologi dikembangkan dalam versi beta dengan menggunakan fasilitas Googlemap. Pada saatnya aplikasi ini akan dipenuhi oleh video para Duta CERITA berisi cerita mereka tentang inkusivitas dan toleransi di kota dan daerah mereka masing-masing. Saat evaluasi terakhir, dari awalnya lima kota dan 144 peserta, program ini menjangkau 14 kota dan 1030 peserta melalui aktivitas replikasi program yang dilakukan oleh para Duta CERITA lapis pertama.

Full Text:

PDF

References


Afrilyasanti, R., & Basthomi, Y. (2011). Digital storytelling: A case study on the teaching of speaking to Indonesian EFL students. Language in India, 11(2), 81-91.

Boje, D. M. (1994). Organizational storytelling: The struggles of pre-modern, modern and postmodern organizational learning discourses. Management Learning, 25(3), 433-461.

Brown, A. D., Gabriel, Y., & Gherardi, S. (2009). Storytelling and change: An unfolding story. Organization, 16(3), 323-333. doi: 10.1177/1350508409102298.

Couldry, N. (2008). Mediatization or mediation? Alternative understandings of the emergent space of digital storytelling. New Media & Society, 10(3), 373-391.

Demircioglu, I. H. (2008). Using historical stories to teach tolerance: The experiences of Turkish eighth-grade students. The Sosial Studies, 99(3), 105-110.

Driscoll, C., & McKee, M. (2007). Restorying a culture of ethical and spiritual values: A role for leader storytelling. Journal of Business Ethics, 73(2), 205-217. doi: 10.1007/s10551-006-9191-5.

Flaherty, M. P. (2011). Narrating the past to vision the future: Constructing civil society with women in Ukraine. (Disertasi yang tidak dipublikasikan). University of Manitoba, Winnipeg, Canada. Diakses dari https://mspace.lib.umanitoba.ca/xmlui/bitstream/handle/1993/4466/flaherty_maureen.pdf.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Hansen, C. D., & Kahnweiler, W. M. (1993). Storytelling: an instrument for understanding the dynamics of corporate relationships. Human Relations, 46(12), 1391-1409.

Lundby, K. (Ed.). (2008). Digital storytelling, mediatized stories: Self-representations in new media. New York, NY: Peter Lang.

Medistiara, Y. (2017, 29 Desember). Selama 2017 Polri tangani 3.325 kasus ujaran kebencian. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-3790973/selama-2017-polri-tangani-3325-kasus-ujaran-kebencian

Puldri , M. A. F. (2017). Penanaman nilai-nilai karakter dalam Pendidikan Agama Islam melalui metode bercerita di SDN 07 Sumanik Kecamatan Salimpaung Kabupaten Tanah Datar. Jurnal al-Fikrah, 5(1), 61-86.

Robin, B. R. (2008). Digital storytelling: A powerful technology tool for the 21st century classroom. Theory Into Practice, 47(3), 220-228.

Rodriguez, D. (2010). Storytelling in the field: Race, method, and the empowerment of Latina college students. Cultural Studies-Critical Methodologies, 10(6), 491-507. doi: 10.1177/1532708610365481.

Sawyer, C. B., & Willis, J. M. (2011). Introducing digital storytelling to influence the behavior of children and adolescents. Journal of Creativity in Mental Health, 6(4), 274-283.

Senehi, J. (2002). Constructive storytelling: A peace process. Peace and Conflict Studies, 9(2), 41-63.




DOI: https://doi.org/10.32509/am.v2i02.857

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Indexed by: 
Google Scholar 

Copyright of Jurnal Abdi MOESTOPO
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Univesitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Jl. Hang Lekir I No. 8 Jakarta Selatan C/Q Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPDM(B)

Contact Person: Dr. Rajab Ritonga, M.Si
Email                  : rajab.ritonga@dsn.moestopo.ac.id
Call/Whatsapp : +62811133471